Podkesmu Ep.1

Seberapa Penting Peran Tiktok Untuk Bisnis Anda

Avatar

Tanggapan dari Ibu Silvia Ratna Ariani mengenai Teknologi yang semakin hari semakin canggih bagaimana?

Avatar

Ya kalau bahas mengenai Tiktok, Tiktok booming di tahun 2018 dan cukup signifikan secara perkembangannya dan secara teknologi selalu ada perkembangan dan sesuatu yang baru. Tapi yang saya lihat di Tiktok adalah sesuatu yang menarik, di Tiktok mewakili 1 generasi yang saya temuin di generasi-generasi Milenial bukan di generasi saya maupun orang tua saya. Saya bersyukur sudah melewati berbagai area perubahan generasi yang diimplementasi yang disupport oleh teknologi juga yang terjadi di masa itu.

Silahkan join di Tiktok untuk mengetahui update nya. Ketika kita ingin masuk ke area-area itu, kita harus tahu karakter masing-masing agar memahami platform yang akan kita masuki. Kalau dalam bisnis semua hal itu boleh, kecuali hal yang tidak boleh dijalankan. Kita mesti melihat, ketika ingin mengoptimalisasi suatu bisnis harus melihat generasi nya. Generasi millenial itu termasuk “Truth Generation” tidak ada yang di tutupi lebih ke essensi. Di tiktok jarang orang bergaya dan apa adanya.

Avatar

Ada apa dengan tiktok? Era instagram sangat tinggi ketika Tiktok belum masuk di
Indonesia, Facebook juga sangat tinggi sampai ke efektivitas pelaku bisnis sampai sekarang juga cukup tinggi. Ketika ada Tiktok masuk ke Indonesia, nah makin lama makin kesini semakin bertumbuh. Ternyata tiktok cukup efektif sebagai channel marketing untuk menyampaikan produk usaha. Tanggapan Ibu Silvi seperti apa?

Avatar

Ya, audience nya sangat besar. Coba kita perhatikan, ketika kita bisa reach 1 platform maka kita bisa reach satu audience gitu loh. Sebenarnya, tiktok bisa kemana-mana karena kita bisa melihat Tiktok terbuka ke 39 languages artinya negara-negara yang masih menggunakan bahasa yang masuk kedalam Tiktok itu berarti market kita dan besar sekali di tahun 2020 “All over the world”. Kalau mau liat perkembangannya jangan melihat market di Indonesia saja, potensialnya bisa besar dari itu. Generasi millenial bisa menginfluence generasi diatasnya untuk melakukan buying / pembelian. Karena generasi millenial itu adalah influencing (merefrensi, mengenggament) kalau kita ingin masuk ke Tiktok, mereka itu lebih casual dan simple untuk menarik user-user generasi Z ini, karena generasi Z tidak suka dengan tradisional ads yang biasa muncul di platfrom-platform sebelumnya.

Bagi mereka itu termasuk tradisonal ads, karena mereka melihat di Tiktok itu menginfluenskannya berbeda dengan di Instagram maupun di Facebook. Tipikal karakter ads di Instagram dan Facebook berbeda. Jika kita ingin mengintroduce bisnis ke audience / ngegrab audience yang lebih bawah yang pertama yang harus kita lakukan ya pakai dulu, tidak harus post sesuatu yang penting punya akun dulu dan create something yang kreatif. Kreatif tidak harus sesuatu yang complicated. Misalnya saya punya produk sabun, saya membuat review tentang sabun dan berbicara dengan viewer saya. Kita tidak perlu create konten dengan cantik, ya apa adanya. Kalau mau lebih budget ads, ya ada juga fasilitas yang ingin kita pakai ads di Tiktok. Berbagai macam ada tipe ads yang ingin kita pakai. Yang ingin saya bahas posibility kita bisa menggrab 1 audience yang tidak ada di platform sebelumnya. Terus terang generasi X tidak mau di Facebook, saya pernah tanya ke anak saya “Kamu mau punya akun Facebook?” anak saya tidak ingin, tidak tertarik di Facebook “disana orangtua semua, informasi tidak seru Ma” otomatis generasi ini yang punya influence tinggi tidak akan ngegrab di Facebook kemudian di Instagram, anak saya punya akun Instagram tapi dia lebih banyak di Tiktok.

Kenapa? Karena di Instagram fake kata anak saya, karena mereka sudah tahu teman-teman mereka yang posting photo itu Not realy life bukan begitu kehidupan mereka, kata anak-anak saya. Untuk ngegrab audience ada banyak cara, mau dilakukan secara yang organik atau mau dilakukan secara ads. Karena ada fasilitas adsnya dan yang menarik adsnya ada yang lebih murah daripada di ads platform-platform sebelumnya. Dan kita tidak tahu kedepannya, ketika audience nya makin tinggi, tapi ya memang karakter untuk kita masuk kesana kita harus mengikuti ya karakter generasi itu. Generasi itu menyukai truth “kebenaran” dan realistis sih mereka, mereka suka gak banyak di fake-fake, lebih jujur lah. Jarang ada orang yang pamer di Tiktok, ini menurut saya yaa hehe karena saya pengguna Tiktok dan enjoy memakainya.

Sekarang saya buka Tiktok, kalau weekend bisa mungkin 4 jam. Saya baru mengakui, time saya di Tiktok lebih besar daripada saya di Instagram, di Facebook bisa dibilang tidak begitu. Tiktok bisa dibilang komsumtif saya nomer 2 setelah WhatsApp sebagai Business communication. Ya.. otomatis potential bisnis di Tiktok semakin tinggi apalagi untuk orang-orang yang seperti saya untuk kemampuan daya beli untuk membeli. Dan lucunya di Tiktok itu genderless loh. Mereka tidak mikirin gender, mereka tidak menkotak-kotakan. Mereka lebih suka kayak unisex gitu ya. Ketika kita mempunyai produk yang ingin di beli oleh semua orang, ya semestinya kita mempunyai Tiktok ya kan.. karena deliver messagenya lebih jujur dan mereka mobile loh. Online dan offline kolamnya sudah berbeda, kalau saya pakai bahasa yang simpel ya.. Nah, pebisnis bisa memanfaatkan audience Tiktok karena sangat tinggi dan itu luar biasa.

Avatar

Kita kutip dari informasi Ibu Silvi, jadi marketing itu kita harus tahu siapa target bisnis teman-teman. Kalau product teman-teman sekalian lebih ke millenials dan generasi Z, Tiktok channel yang cukup efektif untuk pemasaran bisnis. Setelah itu, di Tiktok lebih apa adanya.

Avatar

Di Tiktok bisa sangat viral, kenapa bisa sangat viral karena currency nya itu “people recommendation” artinya mereka mereview. Currency nya dari mereka pakai, review dan nyanyi-nyanyi.

Avatar

Kalau kita berbicara pemasaran via online dan offline kata Ibu Silvi itu memiliki kolam yang berbeda, sebenarnya bisa dibilang pemasaran online saat ini lebih efektif ya bu?

Avatar

Iya, kita komunikasi sekarang tidak melulu offline, apalagi dengan situasi covid ini. Apalagi PSBB di Jakarta, ya mau lewat mana. Ini bener-bener membalikan keyakinan lama, apa yang kita yakini bulan lalu itu sudah tidak berlaku sekarang. Informasi sekarang bergerak lebih online, informasi ini yang harus kita kelola karena itu bagian dari marketing. Marketing itu pasti ada komponen informasi yang harus kita deliver kesana ketika user kita sudah hidupnya dionline, sebagian hidupnya di online seperti saya, yang seperti saya katakan kalau weekend bisa lebih dari 4 jam nonton Tiktok orang-orang, ngscroll ke atas itu ya mau gak mau kita harus berbicara di platform itu. Mau gak mau yang kita sampaikan entah itu informasi kalau dibisnis, ya informasi itu harus mewakili bisa memunculkan pengetahuan.

Baik pengetahuan terkait produk atau pengetahuan terkait yang lain kemudian informasi itu untuk anak-anak generasi Viral, itu mereka harus mampu memberikan informasinya keren, merasa jadi lebih tahu / merasa better. Makanya mereka rela untuk share karena currency nya itu. Currency nya itu tidak hanya Tiktok recomendation / tidak hanya terkait dengan review. Ketika informasi yang kita ingin share itu cukup membuat kita berpengetahuan dan orang lain jadi berpengetahuan maka akan terjadi viral disana. Diluar hal-hal yang bersifat trending dalam waktu sesaat. Kalau trending kita bisa melihat di Twitter, 3 jam trending hilang lagi baru lagi, itu berbeda. Tapi kalau kita ingin memanfaatkan trending ya seperti itu, apa yang trending sekarang itu kita bisa tumpangi mencari Ide. Nanti informasinya apa yang dideliver itu harus jelas berdasarkan sesuatu yang dari trend / lebih keren.

Avatar

Ini ada beberapa pertanyaan, untuk dari segi analitic lebih bagusan di Instragram / di Twitter untuk berjualan?

Avatar

Tidak semua produk harus kita samakan di semua platform, tidak semua bisnis yang kita samakan di semua platform. Kalau audience kita, kita mau larikan ke user yang memang lebih Z Generation lebih baik pakai Tiktok tetapi memang fasilitas di Tiktok hanya bisa comment dan share tapi tidak bisa membeli. Beda kalau di Instagram , kita membeli barang dengan klik gambar keranjang kalau kita pakai fasilitas itu. Ada fasilitas itu di Instagram kalau kita pakai.

Tapi kalau secara iklan, karakter nya memang agak berbeda karena kalau di Instagram bisa taruh video, sebenarnya semua bisa taruh video cuma ya analitic audience nya berbeda. Kalau tujuannya hanya untuk awareness, marketing oke pakai Tiktok. Tapi kalau sudah goalsnya ke Sales (penjualan) untuk melakukan buying yang harus kita pindahkan ke platform yang seperti Marketplace, website atau link. Kalau untuk membuat kehebohan, kelucuan dan keseruan bisa pakai Tiktok, kalau untuk selling bisa pakai platform yang berbeda. Kita harus bijak memilih dan menggunakan Platform.

Avatar

Kesimpulan dari ketiga topik yang sudah kita bicarakan nih Ibu, apa saja?

Avatar

Semakin kedepan 5 tahun lagi kita akan mendapatkan platform baru, tapi kita bisa melihat apa saja yang akan ada di masa-masa itu. Disitulah yang mesti kita aware, kita sadari bahwa tidak semua platform bisa melayani kebutuhan dan keinginan kita. Dan tidak semua platform memiliki pengguna yang sama. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah bijak menyikapi platform – platform yang sedang beredar pada masa ini dan mempersiapkan diri akan perubahan di masa depan.

Jika ada platform baru, yang bisa di accept oleh generasi yang lebih baru pasti akan ada perpindahan orang / pergerakan kesana. Disitulah ketika kita ingin eksis di semua era / audience di semua generasi kita harus mempersiapkan di semua tempat itu kita harus ada. Kita harus aware dan rela untuk berubah menyesuaikan dengan eranya.

payment gateway indonesia, chatbot ipaymu, midtransaksi indonesia